Kopi Susu Kekinian Laris Manis Jangan Cuma Menang Gimik

kopi susu kekinian

Nggak semua tren itu sehat. Termasuk tren minum kopi susu kekinian yang meledak di mana-mana. Mulai dari kedai pinggir jalan sampai kafe ber-AC dengan interior instagramable, semua berlomba jualan kopi yang manis, fotogenik, dan kadang… rasa kopinya malah gak kerasa.

Tren ini mungkin bikin ekonomi UMKM berputar. Tapi kalau dilihat lebih dalam, ada satu pertanyaan yang belum banyak ditanya: apa yang sebenarnya kita minum?


Fore Coffee dan Lahirnya Gaya Minum Kopi Baru

Salah satu pemain besar di pasar ini adalah Fore Coffee. Berdiri sejak 2018, brand ini mengusung konsep teknologi dan gaya hidup dalam segelas kopi. Dari kemasan sampai proses pemesanan lewat aplikasi, Fore menargetkan anak muda urban yang melek digital serta lagi cari cemilan enak dan cari kepraktisan.

Menu andalannya? Tentu saja kopi susu kekinian. Salah satu yang paling ikonik adalah varian Fore Pandan Latte dan Gula Aren Latte—yang jadi semacam blueprint bagi ratusan brand kopi susu lain yang bermunculan setelahnya.

“Kami percaya pada potensi biji kopi Indonesia,” klaim mereka di laman resminya. Dan memang, beberapa menu Fore menggunakan kopi lokal dari daerah seperti Toraja dan Kintamani.

fore coffee
Gerai Fore Coffee Kopi Lokal

Tapi meski niat awalnya mulia—angkat kopi lokal ke level premium—tren yang lahir kadang malah ngelenceng: lebih fokus ke gula dan gimmick.


Dari Kopi Lokal ke Cup Plastik Bermerek

Indonesia punya kopi dari Aceh sampai Papua. Arabika dari Toraja, robusta dari Lampung, dan racikan-racikan petani dari dataran tinggi. Tapi ironisnya, banyak gerai kopi susu kekinian justru pakai kopi instan atau kopi pabrikan yang asal nendang pahitnya.

fore coffee
Produk Fore Coffee Kopi Susu Kekinian

Padahal dari segi branding, mereka bangga pakai istilah kopi lokal. Tapi apakah benar-benar lokal? Atau cuma lokal di label, tapi bahan dari entah mana?

“Kopi lokal tuh bukan cuma soal lokasi, tapi soal relasi. Lo tahu gak, dari siapa lo beli bijinya? Lo ngerti gak, ditanam di ketinggian berapa?” ujar Wawan, barista senior yang udah 7 tahun pegang grinder.

Banyak brand yang pakai nama daerah, tapi gak pernah kerja sama sama petaninya. Bahkan di gelombang awal popularitas Fore, banyak brand lain cuma copy-paste model dan menunya—tanpa pikir panjang soal sumber bahan.


Menjual Gaya Hidup, Bukan Rasa

Ada kopi susu gula aren, kopi susu pandan, kopi susu regal, kopi susu alpukat, bahkan kopi susu boba. Makin absurd variannya, makin viral kontennya. Tapi makin kabur juga identitas kopinya.

Kopi susu kekinian sering kali cuma jadi medium jualan gaya hidup. Gelasnya lucu, stikernya penuh quotes galau, dan tokonya didesain buat selfie. Tapi rasa? Banyak yang bilang rasanya beda-beda tipis. Yang penting manis.

“Gue udah cobain 7 brand kopi susu kekinian. Rasanya beda dikit, tapi manisnya sama semua. Kayak tempe dikasih saus cokelat,” komentar Rima, food vlogger asal Bekasi.


Harga Naik, Kualitas Gak Ikut

Satu cup bisa dibanderol Rp25 ribu sampai Rp40 ribu. Tapi kualitas kopinya? Kadang kalah sama warung kopi depan pasar. Beberapa kedai lebih fokus ke visual branding dan kemitraan, dibanding sourcing biji yang proper.

Mereka tahu anak muda suka yang lucu, yang bisa diposting, dan yang “viral-able”. Maka muncullah desain cup kreatif, nama-nama menu absurd, dan paket promo 1.1, 2.2, 3.3 sepanjang tahun. Masalahnya, bukan semua penikmat kopi itu cuma cari diskon dan desain.


Kopinya Boleh Ngetren, Tapi Jangan Nipu Lidah

Gue gak masalah dengan inovasi. Gak semua harus pahit kayak espresso murni. Tapi kalau kopi lokal cuma jadi tempelan brand, dan gak dihormati sebagai rasa utama — itu cuma dagang, bukan penghormatan terhadap warisan.

Banyak anak muda sekarang bilang mereka “penikmat kopi”. Tapi belum tentu pernah nyicipin manual brew, belum tentu tahu perbedaan washed dan natural process, atau sekadar bisa bedain robusta dari arabika.

“Gue kira kopi susu kekinian itu ngebuka jalan buat anak muda suka kopi. Tapi ternyata cuma nambah konsumsi gula,” celetuk Tegar, mahasiswa pecinta kopi hitam tanpa ampun.

Kalau generasi kopi cuma dibiasakan ngopi dengan susu dan sirup, maka kita gak lagi bangun budaya kopi — kita cuma ikut arus konsumsi.


Petani Kopi Lokal: Yang Kerja Berat, Tapi Gak Kebagian Sorotan

Di balik satu cangkir kopi enak, ada proses panen, sortasi, roasting, hingga distribusi. Tapi yang sering disorot cuma barista dan nama brand. Kopi lokal dari petani di Jember, Kintamani, atau Gayo cuma jadi data di spreadsheet. Bukan bagian dari narasi yang dibanggakan.

Padahal kalau gak ada petani, lo gak punya kopi. Lo cuma punya susu dan gula. Kita terlalu sibuk branding kemasan, sampai lupa siapa yang bikin kita bisa ngopi hari ini.

Catatan Editor: Rekomendasi Kopi Susu Kekinian Jakarta


Gaya Ngopi Jangan Sampai Ngegas Kesehatan

Bukan cuma soal rasa. Gaya minum kopi susu kekinian yang manis berlebihan juga berdampak ke kesehatan. Rata-rata satu cup punya gula setara 6–10 sendok teh. Ditambah susu, krimer, dan berbagai topping, kalori bisa tembus 300–500 kcal.

Kopi jadi cemilan. Dan cemilan jadi candu.

Dokter udah mulai sounding soal prediabetes generasi muda, dan salah satu pemicunya adalah minuman kekinian yang dikira aman karena “kan kopi doang”.


Kalau Mau Ngopi, Pake Akal Sehat

Lo boleh suka kopi susu kekinian, tapi jangan berhenti di rasa manis dan kemasan.
Coba cari tahu biji kopinya dari mana. Coba nikmatin kopi tanpa topping. Coba hargai kerja keras petani dan peracik di balik layar.

Fore Coffee udah jadi pionir yang bikin kopi lokal naik kelas. Tapi brand lain juga harus ikut mikirin sumber, bukan cuma angka penjualan.
Kalau gak, ya siap-siap generasi muda makin gak kenal akar rasa kopinya sendiri.

“Kalau lo cuma suka kopi karena lucu kemasannya, jangan ngaku pecinta kopi. Ngaku aja pecinta gula.” – Redaksi REFB99.

Simak Informasi Terkini! Kunjungi: 99refb.xyz