JAKARTA, 99refb.xyz – Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, mengungkapkan adanya keinginan kuat Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri, untuk bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan Presiden Prabowo Subianto, yang juga Ketua Umum Partai Gerindra.
Namun, menurut Adi, ada sejumlah faktor yang menjadi hambatan dalam merealisasikan pertemuan tersebut. Salah satu hambatan utamanya adalah keberadaan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang saat ini memiliki hubungan cukup dekat dengan Prabowo.
BACA JUGA : bentrok antarwarga di ambon bom molotov dan sepeda motor dibakar
“Tapi rada rumit karena kondisinya tak mendukung, mungkin karena PDI-P kalah pilpres, pilkada juga relatif tak sekuat sebelumnya. Termasuk mungkin karena ada hambatan psikologis dengan Jokowi yang masih mesra dengan Prabowo,” ujar Adi kepada Kompas.com, Minggu (12/1/2025).
Konteks Hubungan Politik
Menurut Adi, hubungan antara PDI-P dan Prabowo sebenarnya baik-baik saja jika dilihat dari sisi politik. Bahkan, di beberapa kesempatan, PDI-P dan Gerindra kerap menunjukkan gestur politik yang sejalan.
Namun, hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pilkada 2024 yang dinilai kurang memuaskan bagi PDI-P menjadi salah satu faktor penghambat. Kekalahan tersebut membuat posisi tawar PDI-P terhadap Prabowo, yang kini menjabat sebagai Presiden RI, berada dalam situasi yang lebih lemah dibandingkan sebelumnya.
“Dalam situasi ini, Megawati mungkin merasa perlu berkomunikasi langsung dengan Prabowo, tetapi dinamika yang ada membuat langkah tersebut sulit terwujud,” tambah Adi.
Jokowi dan Dinamika Politik Pasca Pilpres
Adi juga menyoroti peran Jokowi yang masih aktif dalam percaturan politik meskipun tidak lagi mencalonkan diri di Pilpres 2024. Kedekatan Jokowi dengan Prabowo, yang ditunjukkan dalam berbagai kesempatan, menciptakan hambatan psikologis bagi Megawati untuk menjalin komunikasi langsung dengan Prabowo.
“Hubungan Jokowi dengan Prabowo ini menimbulkan semacam jarak antara Megawati dan Prabowo. Secara psikologis, ada kesan bahwa Megawati harus menjaga jarak dengan Prabowo karena situasi yang ada sekarang,” ujar Adi.
Potensi Pertemuan Mega-Prabowo
Meski terdapat berbagai hambatan, Adi menilai pertemuan antara Megawati dan Prabowo tetap memungkinkan terjadi, terutama jika ada momentum politik yang mendorong kedua tokoh ini untuk duduk bersama.
“Dari sisi politik, keduanya tidak memiliki masalah besar. Justru pertemuan ini bisa memperbaiki komunikasi politik antarpartai dan menciptakan stabilitas politik nasional,” tutur Adi.
Namun, Adi mengingatkan bahwa waktu dan konteks politik menjadi faktor penting yang menentukan apakah pertemuan ini bisa benar-benar terwujud.
Kesimpulan
Kondisi politik yang kompleks, ditambah dengan kedekatan Jokowi dan Prabowo, menciptakan tantangan bagi Megawati untuk menjalin komunikasi langsung dengan Prabowo. Meski begitu, peluang pertemuan tetap terbuka selama ada dorongan politik yang cukup kuat untuk mempertemukan kedua tokoh besar tersebut.
