Pernah nggak sih kamu denger nama besar masuk ke lingkaran kerja lokal dan mikir, “Eh, seriusan nih?” Nah, itu yang baru aja kejadian waktu nama Jeffrey Sachs diumumkan jadi bagian dari Dewan Penasihat Danantara — badan yang sekarang ngurusin investasi daya anagata di Indonesia.
Buat yang belum familiar, Danantara itu singkatnya kayak otak kanan dari cara negara ini mikir jangka panjang soal investasi. Dan tiba-tiba, boom — ada nama Jeffrey Sachs, ekonom kelas dunia, masuk di sana. Rasanya kayak nonton film Marvel, tiba-tiba karakter boss level muncul di post-credit scene.
Siapa sih Jeffrey Sachs?
Kalau ekonomi itu kayak game strategi, Sachs ini udah kayak pemain veteran yang ngerti semua kombinasi menang. Lahir di Detroit, Michigan, tahun 1954, Jeffrey Sachs bukan cuma akademisi. Dia tuh semacam kombinasi antara guru besar, problem solver, dan diplomat ekonomi internasional.
Dia lulus dari Harvard dan langsung ngegas karier akademiknya sampai jadi profesor tetap di usia 26 tahun. Bayangin, waktu sebagian orang masih figuring out passion hidup, dia udah duduk di meja profesor di kampus top dunia.
Tapi Sachs nggak berhenti di ruang kuliah. Dia keluar dari kampus, bawa ilmunya ke dunia nyata — bantu negara-negara bangkit dari krisis ekonomi, dari Bolivia sampai Polandia, bahkan pernah bantu Indonesia pasca krisis 1998.
Kenapa Kehadiran Sachs Penting Buat Indonesia?
Gini deh, kita semua tahu membangun ekonomi itu bukan cuma soal duit, tapi juga soal arah. Nah, Sachs itu ibarat GPS-nya pembangunan berkelanjutan. Dia udah malang melintang di organisasi macam IMF, World Bank, sampai PBB, jadi ngerti banget cara menavigasi ekonomi yang kompleks.
Baru-baru ini, CEO Danantara, Rosan Roeslani, ngumumin nama-nama penasihat baru. Selain Sachs, ada juga tokoh global kayak Ray Dalio dan Thaksin Shinawatra. Tapi nama Jeffrey Sachs yang paling bikin angkat alis — soalnya dia dikenal sebagai orang yang selalu bawa value jangka panjang.
Dalam pernyataan resminya, Rosan bilang proses seleksi Dewan Penasihat itu ketat. Dan emang sih, Sachs bukan tipe yang asal nyemplung. Dia milih proyek yang punya misi dan visi jelas.
Dari MDGs Sampai SDGs: Sachs Bukan Sekadar Ekonom
Sachs pernah jadi penasihat Sekjen PBB Kofi Annan dalam proyek ambisius bernama UN Millennium Project, yang jadi cikal bakal Millennium Development Goals (MDGs). Itu loh, target global buat ngurangin kemiskinan, kelaparan, dan krisis lingkungan.
Kalau zaman sekarang ada istilah “sustainable,” Sachs udah ngomongin itu dari dua dekade lalu. Dia juga sempat jadi Presiden Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB dan sekarang masih aktif jadi Advokat SDGs buat PBB. Singkatnya, dia bukan ekonom yang cuma mikirin grafik dan angka—dia mikirin planet ini secara utuh.
Dan yang bikin dia makin keren? Dia nggak pelit ilmu. Sachs nulis banyak buku yang bestseller, mulai dari The End of Poverty, Common Wealth, sampai The Price of Civilization. Bahasannya dalem, tapi masih bisa dipahami sama pembaca awam — cocok buat kamu yang mau upgrade pengetahuan ekonomi tapi males baca jurnal.
Catatan Editor: Prabowo Resmikan BPI Danantara
Dari Harvard ke Danantara: Kok Bisa?
Kalau dipikir-pikir, apa sih yang bikin seseorang selevel Sachs tertarik masuk ke tim penasihat Indonesia?
Jawabannya mungkin terletak di visi Danantara itu sendiri — membangun masa depan investasi yang tahan lama, bukan instan. Sachs suka dengan konsep pembangunan yang berpikir jauh ke depan. Danantara, yang lagi didesain jadi pengelola investasi masa depan negara, pastinya cocok banget sama misi hidupnya.
Dan, kalau boleh kita sedikit reflektif, mungkin ini saatnya juga buat kita berhenti mikir kalau Indonesia cuma tempat “pasar berkembang”. Kehadiran nama kayak Jeffrey Sachs di balik layar kebijakan bikin kita sadar: Indonesia mulai serius memainkan peran globalnya.
Insight Kecil: Kadang, yang Berat Itu Nggak Harus Ribet
Jeffrey Sachs itu kayak bukti hidup bahwa topik seberat ekonomi dunia bisa dijelaskan dengan cara yang sederhana, asal kamu ngerti esensinya. Sama kayak hidup sih — kadang bukan tentang banyaknya hal yang kita lakukan, tapi seberapa sadar kita dalam melakukannya.
Kalau kamu pernah mikir “aku cuma anak muda biasa, ngapain mikirin hal berat kayak ekonomi global?”, coba pikir ulang. Karena bisa jadi, orang-orang kayak Jeffrey Sachs dulu juga mulai dari rasa penasaran kecil… yang dibesarkan dengan konsistensi.
Jeffrey Sachs bukan cuma ekonom. Dia adalah pengingat bahwa berpikir besar itu penting — bahkan kalau kamu cuma lagi duduk sambil ngopi dan baca artikel ini. Siapa tahu, kelak kamu yang bantu bikin kebijakan jangka panjang buat masa depan negara ini.
Simak Informasi Terkini! Kunjungi: 99refb.xyz

