Peran media massa makin kehilangan taji. Opini publik bukan lagi diserap—tapi dipotong, dibentuk, dan kadang malah diabaikan total.
Di banyak ruang publik digital, orang udah jarang sebut berita TV atau koran sebagai rujukan. Yang lebih sering muncul? Thread X, komentar di TikTok, atau caption panjang di Instagram. Bukan karena masyarakat makin malas baca. Tapi karena mereka merasa, media besar udah nggak relevan sama suara mereka.
Fenomena ini ngasih sinyal keras: peran media massa dalam mewakili realitas sosial makin diragukan. Terutama saat opini yang beragam cuma disajikan satu arah.
Dominasi Sosial Media: Karena Orang Butuh Didengar, Bukan Didiagnosa
Saat masyarakat bersuara soal mahalnya biaya sekolah, buruknya layanan kesehatan, atau ketimpangan ekonomi, media sering telat—atau malah nggak muncul. Giliran viral di sosial media, baru diangkat. Itu pun seringkali dengan framing yang nggak netral.
Banyak netizen justru merasa lebih didengar di kolom komentar YouTube ketimbang di meja redaksi. Dan itu bahaya. Karena ketika orang kehilangan kepercayaan pada peran media massa, maka yang muncul adalah ruang liar penuh bias, tanpa kontrol, tanpa verifikasi.
Model Komunikasi Media: Masih Satu Arah, Masih Terlalu Elitis
Masih banyak redaksi yang berpikir pembaca itu pasif. Mereka lebih suka menyampaikan suara narasumber resmi, ketimbang menyajikan keberagaman opini publik. Bahkan saat masyarakat punya sudut pandang yang kritis, tetap saja yang diangkat pernyataan dari politisi, pejabat, atau “ahli” yang itu-itu aja.
Dalam praktiknya, ini membentuk model komunikasi yang eksklusif. Opini rakyat seolah hanya jadi penonton, bukan aktor.
“Saya sudah dua kali kirim opini ke media nasional, tapi nggak pernah dimuat. Padahal isinya soal keresahan warga,” kata Ari (33), warga Jakarta Barat. “Tapi waktu saya bikin utas di Twitter, malah tembus 10 ribu likes dan akhirnya diliput.”

Prioritas Sumber Resmi: Publik Digeser oleh Elit
Jurnalisme di Indonesia masih sangat tergantung pada kutipan resmi. Sumber kredibel dianggap harus punya jabatan. Padahal suara warga, komunitas akar rumput, dan kelompok rentan jauh lebih banyak memberi konteks soal realitas sosial.
Tapi sayangnya, peran media massa seringkali lebih sibuk mengamankan hubungan dengan lembaga formal ketimbang merekam denyut publik sebenarnya.
Dan ini bikin opini publik makin kehilangan tempat. Masyarakat dianggap reaktif, emosional, atau nggak layak diberi panggung.
Media dan Kepentingan Ekonomi: Clickbait, Algoritma, dan Sponsor
Di balik layar, banyak keputusan editorial hari ini nggak diambil berdasarkan nilai jurnalistik. Tapi berdasarkan algoritma, angka CTR, dan peluang kerjasama komersial.
Ini bukan rahasia. Judul-judul sensasional makin sering muncul. Narasi dangkal, konflik, dan gosip justru mendominasi halaman utama. Karena yang penting: traffic tinggi dan cuan masuk.
Dan ketika peran media massa ditentukan oleh metrik komersial, opini publik yang kritis, reflektif, atau “kurang viral” bakal dikesampingkan.
Catatan Editor: Kebebasan Hak Nyata Sistem Hukum
Substansi vs Sensasi: Konten Serius Kalah Populer
Coba bandingin dua headline ini:
- “Rencana Subsidi Energi 2024 dan Implikasinya bagi Kelas Menengah”
- “Viral! Ibu-Ibu Marah karena Harga Gas Naik”
Mana yang kemungkinan besar naik CTR-nya? Jelas yang kedua. Dan sayangnya, banyak media justru lebih milih angle yang sensasional meski kehilangan konteks. Padahal, fungsi media bukan bikin orang kaget, tapi bikin orang ngerti.
Saat substansi kalah, opini jadi kehilangan tempat. Suara publik yang kompleks dipotong biar muat di 150 karakter caption.
Hilangnya Kepercayaan Publik: Konsekuensi dari Praktik Jurnalisme yang Malas
Kondisi ini ngasih efek domino. Saat publik sadar mereka nggak didengar, maka mereka cari tempat baru. Entah itu akun anonim yang rajin ngebongkar data, kanal investigasi independen, atau malah hoaks yang cocok sama keresahan mereka.
Peran media massa sebagai penjaga akal sehat publik makin terkikis. Karena yang harusnya jaga kualitas malah sibuk jadi buzzer terselubung.
Bahkan di beberapa riset, kepercayaan pada media arus utama lebih rendah dari influencer lokal. Ini gila. Tapi nyata.

Tantangan Menangkap Keberagaman Opini Publik
Indonesia bukan negara satu suara. Dari Papua sampai Aceh, keresahan warga beda-beda. Tapi media seringkali nyajikan seolah semua homogen. Gaya hidup urban Jakarta dianggap representasi nasional.
Dan itu bikin banyak komunitas merasa nggak punya tempat. Ketika berita cuma berputar di elite kota besar, maka publik daerah dianggap cuma konsumen, bukan kontributor.
Padahal opini publik itu luas. Dan peran media harusnya jadi perantara. Bukan sekadar pemfilter.
Sentilan REFB99: Kalau Media Gagal Dengerin Rakyat, Maka Rakyat Bikin Media Sendiri
Fenomena media independen, jurnalisme warga, dan kanal-kanal opini berbasis komunitas makin marak. Karena banyak orang yang nggak mau nunggu lagi.
Kalau lo nggak dengerin kami, kami bakal bikin media sendiri. Yang nggak tergantung iklan, nggak nyembah algoritma, dan nggak takut disensor.
Dan ini harusnya bikin media besar mikir: mereka mau adaptasi, atau ditinggal?
Media Harus Balik ke Jalan Lurusnya
Peran media massa terlalu penting buat ditinggalin ke tangan yang nggak peduli. Kalau mereka masih pengen dipercaya, mereka harus mulai dengar. Harus mulai nyari suara publik, bukan cuma suara elite.
Karena kalau media terus-terusan jadi corong kekuasaan dan kapital, maka publik bakal ngambil alih ruang bicara itu. Dengan atau tanpa izin.
Melalui tulisan ini, REFB99 menegaskan perannya sebagai media online yang membuka ruang bagi opini tajam dan refleksi sosial dari suara warga jalanan.
Informasi Terkini : 99refb.xyz
