99refb.xyz Purwakarta, 7 febuari 2025 TNI Angkatan Darat (TNI AD) melalui program agroforestry di Gunung Hejo, Purwakarta, Jawa Barat, telah berhasil mengubah lahan tidur seluas 200 hektare menjadi kawasan produktif yang mendukung ketahanan pangan nasional. Program ini diinisiasi sebagai bagian dari upaya TNI AD dalam mendukung kemandirian pangan masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal.
ahap I Kp Lebakwangi, tahap II Kp Cilimus, tahap III Kp Ciloa dan tahap IV Kp Pasir Peuteuy. Lahan perkebunan karet HGU PTPN disulap menjadi lahan pertanian dengan tanaman cabe rawit, tomat ceri dan bawang merah serta aneka pohon buah yang bernilai ekonomis tinggi, peternakan ayam kampung, budidaya magot, ternak domba dan perikanan.
Agroforestry Gunung Hejo yang diresmikan Kasad Jenderal TNI AD Maruli Simanjuntak, M.Sc., pada hari Rabu (5/2/2025) masuk ke dalam wilayah teritorial Koramil 1903/Darangdan, Kodim 0619/Purwakarta, merupakan jajaran satuan Korem 063/SGJ.

BACA JUGA : presiden prabowo bidik menteri bermasalah
Latar Belakang dan Tujuan
Program agroforestry ini merupakan hasil kolaborasi antara TNI AD dengan berbagai pihak, termasuk PT Elevasi Agri Indonesia (Elevarm), yang memberikan edukasi dan pelatihan kepada petani setempat mengenai praktik pertanian modern. Dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif, TNI AD berharap dapat membantu mengurangi ketergantungan pada impor pangan serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Agroforestry sendiri merupakan sistem pertanian terpadu yang mengkombinasikan tanaman pertanian, pohon buah-buahan, serta kegiatan peternakan dalam satu kawasan. Dengan metode ini, tidak hanya hasil pertanian yang meningkat, tetapi juga ekosistem tetap terjaga melalui keberagaman hayati yang lebih baik dibandingkan dengan sistem monokultur.
Implementasi dan Jenis Tanaman
Pada lahan agroforestry Gunung Hejo, berbagai tanaman bernilai ekonomis tinggi telah ditanam, termasuk cabai rawit, tomat ceri, dan bawang merah. Selain itu, pohon buah-buahan seperti kelengkeng, alpukat, mangga, petai, durian, manggis, dan sawo juga menjadi bagian dari sistem pertanian ini.
Selain sektor pertanian, agroforestry ini juga mencakup peternakan ayam kampung, ternak domba, budidaya maggot, serta perikanan air tawar. Dengan adanya diversifikasi usaha tani ini, masyarakat memiliki lebih banyak sumber pendapatan, sehingga risiko ekonomi akibat gagal panen bisa diminimalisir.
Peran TNI AD dalam Pendampingan Petani
TNI AD tidak hanya menyediakan lahan, tetapi juga aktif dalam mendampingi para petani melalui peran Babinsa setempat. Para petani mendapatkan bimbingan tentang teknik pertanian modern, manajemen irigasi, serta cara mengelola hasil panen agar mendapatkan keuntungan yang maksimal. Program ini juga melibatkan teknologi pertanian seperti sistem irigasi tetes dan pemanfaatan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman.
Pada 5 Februari 2025, Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, secara resmi meresmikan kawasan agroforestry ini. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya sinergi antara TNI AD dan masyarakat dalam menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Dampak Sosial dan Ekonomi
Sejak dimulainya program ini, sebanyak 302 petani lokal telah terlibat aktif dalam mengelola lahan agroforestry Gunung Hejo. Banyak dari mereka yang sebelumnya kesulitan mendapatkan penghasilan kini mampu meningkatkan taraf hidupnya melalui hasil panen yang lebih stabil dan beragam.
Selain itu, kawasan ini juga membuka peluang usaha baru di sektor distribusi dan pengolahan hasil pertanian. Misalnya, beberapa petani mulai mengembangkan usaha olahan makanan berbasis hasil panen seperti sambal cabai rawit, jus buah, dan pakan ternak berbahan maggot.
Dari sisi ekologi, penerapan agroforestry juga memberikan manfaat bagi lingkungan dengan mengurangi risiko erosi tanah, meningkatkan kesuburan tanah, serta menjaga keseimbangan ekosistem setempat. Dengan adanya pohon buah-buahan yang ditanam, kawasan ini juga menjadi lebih hijau dan asri, sekaligus membantu mengurangi emisi karbon di udara.

Dengan adanya program ini, diharapkan masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga memiliki keterampilan baru dalam bidang pertanian dan peternakan yang dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Transformasi lahan tidur di Gunung Hejo menjadi kawasan agroforestry yang produktif merupakan bukti nyata bahwa kerja sama antara TNI AD, masyarakat, dan sektor swasta dapat memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
