99refb – Ketika dunia berbicara tentang perang di Timur Tengah, investor biasanya langsung memikirkan dua aset utama: minyak dan emas. Keduanya hampir selalu bergerak menjadi pusat perhatian ketika konflik geopolitik meningkat, terutama jika melibatkan kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Saat ini pasar global masih mencoba mencerna berbagai perkembangan terbaru terkait konflik Iran dan sekutunya dengan Amerika Serikat serta Israel. Meski sempat muncul harapan adanya kesepakatan damai, banyak analis menilai risiko eskalasi masih tinggi. Jika perjanjian damai gagal dan Selat Hormuz kembali ditutup, harga emas berpotensi memasuki fase volatilitas baru dalam tiga bulan ke depan.
Pertanyaannya, apakah emas akan langsung melonjak seperti yang sering dibayangkan investor? Ataukah justru ada kemungkinan terjadi koreksi sementara sebelum kembali naik?
Jawabannya ternyata lebih kompleks daripada sekadar “perang naik, emas naik”.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Berpengaruh terhadap Emas?
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima hingga seperempat perdagangan minyak global melewati jalur ini setiap hari. Ketika jalur tersebut terganggu, pasar langsung khawatir terhadap pasokan energi dunia.
Kenaikan harga minyak kemudian memicu kekhawatiran inflasi. Ketika inflasi meningkat, investor mulai mencari aset yang dianggap mampu menjaga nilai kekayaan mereka. Salah satu aset yang paling sering dipilih adalah emas.
Namun hubungan ini tidak selalu berjalan lurus.
Dalam beberapa episode krisis sebelumnya, termasuk saat konflik Iran memuncak pada awal 2026, emas sempat mengalami tekanan meskipun perang sedang berlangsung. Morgan Stanley mencatat bahwa kenaikan ekspektasi suku bunga dan penguatan dolar AS dapat membatasi kenaikan emas meskipun risiko geopolitik meningkat.
Karena itu, untuk memprediksi harga emas dalam tiga bulan ke depan, kita tidak bisa hanya melihat perang. Kita juga harus memperhatikan dolar AS, kebijakan The Fed, inflasi, dan perilaku bank sentral dunia.
Apa yang Terjadi Pada Emas Saat Hormuz Ditutup Sebelumnya?
Ketika krisis Hormuz memuncak pada awal 2026, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Beberapa laporan pasar mencatat emas sempat menembus area US$5.300 per troy ounce saat ketegangan geopolitik mencapai puncaknya. Safe haven buying atau aksi berburu aset aman menjadi pendorong utama kenaikan tersebut.
Namun menariknya, setelah itu emas tidak terus naik tanpa henti.
Ketika pasar mulai menghadapi masalah likuiditas dan investor membutuhkan uang tunai untuk menutup posisi di aset lain, emas justru sempat terkoreksi cukup dalam. Sprott menyebut fenomena tersebut sebagai “liquidity story, not a broken thesis”, artinya koreksi emas lebih disebabkan kebutuhan likuiditas pasar daripada hilangnya daya tarik emas sebagai aset aman.
Pelajaran penting dari episode itu adalah bahwa emas tetap menjadi aset safe haven, tetapi perjalanannya bisa sangat volatil.
Skenario Pertama: Selat Hormuz Ditutup Lagi dan Perang Berlanjut
Ini adalah skenario yang paling bullish untuk emas.
Jika Selat Hormuz kembali ditutup dan negosiasi damai benar-benar gagal, pasar kemungkinan akan kembali menghadapi lonjakan harga minyak, gangguan perdagangan global, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam kondisi seperti itu, permintaan terhadap emas biasanya meningkat dari beberapa kelompok sekaligus.
Investor institusi mencari perlindungan terhadap gejolak pasar saham.
Bank sentral meningkatkan pembelian emas untuk diversifikasi cadangan devisa.
Investor ritel membeli emas fisik sebagai bentuk perlindungan terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Kombinasi ketiga faktor tersebut berpotensi menciptakan gelombang permintaan baru yang cukup besar.
Jika skenario ini terjadi, emas berpotensi kembali menguji area US$4.800 hingga US$5.200 per troy ounce dalam tiga bulan mendatang. Kisaran tersebut bukan prediksi resmi, melainkan estimasi berdasarkan level harga yang pernah tercapai selama puncak krisis sebelumnya serta target yang digunakan sejumlah analis internasional.
Skenario Kedua: Perang Berlangsung Lama Tetapi Tidak Ada Penutupan Total
Ini justru skenario yang paling realistis menurut banyak analis.
Dalam kondisi ini, konflik masih berlangsung tetapi jalur pelayaran tidak sepenuhnya terputus. Pasokan energi terganggu sebagian, harga minyak tetap tinggi, tetapi tidak terjadi kepanikan besar seperti saat penutupan penuh.
Bagi emas, kondisi ini biasanya menghasilkan tren naik yang lebih stabil.
Investor tetap mencari aset aman, tetapi pasar tidak mengalami kepanikan ekstrem. Akibatnya, emas cenderung bergerak dalam tren bullish bertahap dibandingkan lonjakan eksplosif.
Dalam skenario seperti ini, kisaran harga US$4.300 hingga US$4.800 per troy ounce terlihat lebih realistis untuk tiga bulan ke depan. Saat ini harga emas COMEX masih berada di sekitar US$4.300 per ounce setelah sempat mengalami koreksi dari puncaknya.
Skenario Ketiga: Perang Meluas ke Kawasan Lain
Inilah skenario yang paling ditakuti pasar global.
Jika konflik melibatkan lebih banyak negara dan mengganggu jalur perdagangan internasional secara luas, emas berpotensi mengalami lonjakan yang lebih besar dibandingkan yang pernah terjadi sebelumnya.
Alasannya sederhana. Pada titik tertentu, investor tidak lagi hanya mengkhawatirkan harga minyak atau inflasi, tetapi mulai mempertanyakan stabilitas sistem keuangan global.
Dalam kondisi ekstrem seperti ini, emas sering diperlakukan sebagai aset moneter global.
Bank sentral biasanya mempercepat pembelian emas ketika risiko geopolitik meningkat. Goldman Sachs bahkan mencatat bahwa pembelian emas oleh bank sentral global masih berada jauh di atas rata-rata sebelum tahun 2022.
Jika konflik benar-benar meluas, target US$5.500 hingga US$6.000 per ounce bukan lagi sesuatu yang mustahil menurut sejumlah model pasar yang digunakan oleh analis komoditas.
Faktor yang Bisa Menghambat Kenaikan Emas
Meskipun banyak investor menganggap emas selalu naik saat perang, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada beberapa faktor yang justru dapat menahan kenaikan harga emas.
Dolar AS Menguat
Saat terjadi krisis besar, investor global sering membeli dolar AS sebagai aset aman.
Jika dolar menguat terlalu cepat, harga emas bisa mengalami tekanan sementara karena emas dihargai dalam dolar.
The Fed Tetap Hawkish
Suku bunga tinggi membuat obligasi dan deposito menjadi lebih menarik.
Goldman Sachs baru-baru ini memangkas proyeksi harga emas karena memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Aksi Ambil Untung
Setelah kenaikan besar, investor biasanya melakukan profit taking.
Fenomena ini sering membuat emas turun sementara meskipun faktor fundamental sebenarnya masih mendukung kenaikan jangka panjang.
Bagaimana Dampaknya Bagi Harga Emas di Indonesia?
Bagi masyarakat Indonesia, harga emas tidak hanya dipengaruhi harga emas dunia.
Nilai tukar rupiah juga memainkan peran besar.
Jika Selat Hormuz kembali ditutup, rupiah berpotensi mengalami tekanan akibat naiknya harga energi dan meningkatnya permintaan dolar AS global. Ketika rupiah melemah dan harga emas dunia naik secara bersamaan, harga emas domestik biasanya melonjak lebih cepat dibandingkan harga emas internasional.
Inilah sebabnya mengapa harga emas Antam dan berbagai produk emas fisik lainnya sering mencetak rekor baru ketika terjadi krisis geopolitik global.
Bahkan jika kenaikan emas dunia tidak terlalu besar, pelemahan rupiah saja sudah cukup untuk mendorong harga emas lokal naik signifikan.
Apakah Sekarang Waktu yang Tepat Membeli Emas?
Jawabannya sangat bergantung pada tujuan investasi masing-masing.
Jika tujuannya untuk perlindungan nilai jangka panjang terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, emas masih dianggap salah satu aset yang paling kuat secara historis. Banyak bank sentral dunia juga terus menambah cadangan emas mereka sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko global.
Namun bagi investor jangka pendek, volatilitas emas saat ini juga sangat tinggi. Pergerakan harga dalam satu hari bisa jauh lebih besar dibandingkan kondisi normal karena pasar terus bereaksi terhadap perkembangan perang, harga minyak, dan kebijakan bank sentral.
Karena itu, strategi masuk bertahap sering dianggap lebih aman dibandingkan membeli sekaligus pada harga tertentu.
Safe Heaven di Anggap Tetap USD
Jika Selat Hormuz kembali ditutup dan perjanjian damai gagal, harga emas memiliki peluang besar untuk kembali menguat dalam tiga bulan ke depan. Faktor utama yang mendukung adalah meningkatnya permintaan safe haven, risiko inflasi akibat lonjakan harga energi, serta pembelian emas oleh bank sentral dunia.
Skenario paling realistis saat ini adalah emas bergerak dalam tren bullish dengan volatilitas tinggi. Dalam kondisi perang berkepanjangan, harga emas dunia berpotensi bertahan di atas US$4.300 per ounce dan memiliki peluang menguji kembali area US$5.000 jika ketegangan terus meningkat.
Bagi investor Indonesia, potensi kenaikan bisa terasa lebih besar karena harga emas domestik juga dipengaruhi pergerakan rupiah. Jika rupiah melemah bersamaan dengan naiknya harga emas global, maka rekor harga emas baru di dalam negeri bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Referensi
https://www.iea.org/about/oil-security-and-emergency-response/strait-of-hormuz
https://www.businessinsider.com/oil-prices-brent-wti-outlook-strait-of-hormuz-reopening-2026-6
https://sprott.com/insights/gold-and-the-hormuz-disruption-a-monetary-stress-test
